NAVIGASI

Rabu, 11 April 2012

Merasa lebih pandai daripada ulama jaman dulu

KESOMBONGAN ORANG JAMAN SEKARANG YANG MERASA LEBIH PANDAI DARI ULAMA' JAMAN DAHULU

Sesungguhnya Umat terbaik adalah generasi pertama, kedua, dst..

Dengan kata lain, umat terdahulu itu lebih tinggi derajat ilmu dan amalnya..

Yang paling tinggi ilmu dan amal nya adalah نبي ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰالله ﻋﻠﻴﻪ وسلم اللهم ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ dimana beliau cukup dengan wahyu.


Pemahaman nabi akan wahyu alqur'an dan hadist qudsi sungguh seluas alam semesta tiada yang menandingi, dan nabi mengutarakan pemahamannya berbentuk hadist.


Setelah itu derajat tertinggi adalah para shahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, dst..


Para tabi'in tidak pernah sekolah, baca kitab-kitab fiqih, dll, mereka mencari ilmu dengan menghafal alqur'an dan hadist dari lisan gurunya.


Begitu juga para tabi'ut tabi'in..


Boleh jadi yang di hafal sama, yaitu kitab alqur'anil karim, namun belum tentu pemahaman nya sama..


Pemahaman manusia itu tergantung dari seberapa luas daya intelegensia, emosional, dan spiritual nya..


Pemahaman yang benar hanya bisa di dapat dengan ta'lim pada guru yang bersambung, karena guru dapat membimbing dan meluruskan jika ada ketidakpahaman.


Ilmu dan amal ad-diinul islam, itu dari zaman ke zaman semakin surut..


Benar memang jika zaman semakin beranjak, maka semakin banyak kitab-kitab karangan yang bermunculan, namun sebenarnya kitab-kitab itu hanya syarah dan tafsiran dari kitab induk yaitu alqur'anil karim..


Al-qur'an adalah kitab ad-diinul islam yang sempurna dan menyempurnakan.


Tafsir alqur'an yang pertama adalah Al-Hadits, نبي ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰالله ﻋﻠﻴﻪ وسلم اللهم ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ adalah wujud al-qur'an yang berjalan.


Lalu di tafsirkan oleh para shahabat dengan fatwa-fatwa mereka.


Di tafsirkan oleh tabi'in, oleh tabi'ut tabi'in, dst


Di tafsirkan oleh para ulama' mujtahid mutlak, para imam madzhab, di syarah oleh ulama' mujtahid madzhab, dst.


Kitab-kitab karangan ulama' zaman sekarang itu adalah syarah dari ulama'-ulama' sebelumnya, yang terus bertingkat ke ulama' sebelumnya, sebelumnya, dan sebelumnya sampai para ulama' pendahulunya..


Sehingga pada dasarnya, ilmu diinul islam itu bukannya semakin tinggi tapi semakin menurun.


Tolak ukur kualitas suatu ilmu bukanlah seberapa banyak kitab yang telah di baca, melainkan seberapa tinggi pemahamannya akan suatu kitab, dan seberapa cepat dia mengolah dan memahaminya.


Wal hasil, sesungguhnya ketinggian derajat ilmu diinul islam itu bukan di lihat dari wawasan bacaan nya..


Melainkan seberapa kuat taqwa, seberapa tinggi akhlak, dan seberapa besar dia dapat menahan nafsu angkara nya..


Wallahu 'alam bis showab


Wabil taufiq wal hidayah wa ridho wal inayah..


Barokallahu fykum..

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Bagikan